Diskusi Pemanfaatan Usaha Cagar Budaya oleh BPCB

By Ahmad Rajendra


Nusakini.com--Maros--Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan gelar diskusi terpumpun di Grand Town Hotel Mandai, Maros. Diskusi ini berlangsung. pada Sabtu (4/5/2019). 

BPCB Sulawesi Selatan menyampaikan tiga materi yang telah dilaksanakan pada awal 2019 ini. Melalui diskusi terpumpun ini pihak cagar budaya berharap mendapat masukan dari segenap undangan yang hadir.

Sedikitnya 60 peserta hadir pada diskusi ini. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sendiri menjadi salah satu peserta, mengingat sebagian lokasi situs prasejarah berada di kawasan taman nasional.

Kegiatan berjalan alot dengan membagi dua sesi. Sesi pertama memaparkan materi tata pamer pusat informasi Taman Prasejarah Leang-leang dan kajian laju kerusakan lukisan prasejarah yang berlanjut diskusi. Sesi kedua berlangsung setelah jeda istirahat siang dengan materi studi teknis pengembangan kawasan sub karst Maros. Sesi ini pun berlanjut dengan diskusi peserta yang hadir.

Pada akhir sesi diskusi materi ketiga, Dosen Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin, Iwan Sumantri, menyampaikan ulasannya tentang pemberdayaan masyarakat di sekitar situs. Ia tergelitik setelah mengikuti rangkain diskusi yang telah berlangsung sedari pagi. Kali ini dosen berambut gonrong ini berfokus pada berdayanya masyarakat Leang-leang. Di mana notabene berada di sekitar lokasi wisata cagar budaya, Taman Prasejarah leang-leang.

Setelah Laode Muhammad Aksa, Kepala BPCB Sulawesi Selatan, mengakhiri materi ketiganya, Iwan angkat bicara. Sang dosen berharap agar masyarakat terutama pemuda di sekitar taman prasejarah mulai berfikir kreatif.

Memanfaatkan peluang yang terbuka di depan mata. Wisatawan dalam jumlah kecil hingga besar lalu lalang di sekitar desa mereka hampir setiap harinya. “Ini peluang, berbagai usaha bisa dimulai. Salah satu contohnya warung makan yang layak belum tersedia di sana. Perlu ada yang merintis. Saya kira uluran pemerintah untuk memulai tak bisa selalu diharapkan,” jelas Iwan.

“Tak perlu besar, asal bersih, cukup,” tambahnya.

“Saya beri contoh lain: tas ini polos, jika saya buat tambahan dengan sablon gambar tangan seperti hal gambar prasejarah, maka nilainya bisa naik.

Misalnya harga semula 20 ribu, dengan sentuhan tambahan bisa dijual kembali dengan harga 30 ribu,” sembari mengangkat tas belanja polos pembagian panitia.

Ia kemudian melanjutkan. “Ada banyak peluang yang terbuka jika kita mau berpikir dan kreatif. Saya perhatikan wisatawan yang berkunjung ke Taman Prasejarah Leang-leang saat pulang tidak membawa buah tangan. Ini peluang, kita bisa buat kaos atau gantungan kunci,” tuturnya bersemangat.

“Saya kira beberapa tahun lalu mereka sudah ada niat memulai. Mungkin masih ada kendala. Niat dan usahanya perlu dikuatkan lagi. Sayang, jika hanya jadi penonton,” Iwan terus memotivasi.

Keamanan dan kenyamanan wisatawan saat pelesir adalah syarat mutlak. “Ada baiknya masyarakat sekitar lokasi wisata lebih ramah. Lebih banyak senyum, ringan tangan menolong para pelancong,” tambahnya.

“Masyarakat juga perlu sering-sering bercerita dengan wisatawan jika bertemu. Hitung-hitung sebagai oleh-oleh tambahan pengetahuan baru bagi mereka,” iwan mengakhiri komentarnya.

Sang dosen menggugah peserta diskusi. Juga menjadi masukan berharga bagi masyarakat Leang-leang untuk memanfaatkan peluang yang tersedia. Diskusi informal antara iwan dan perwakilan masyarakat Leang-leang kemudian berlanjut usai diskusi terpumpun berakhir. 

BPCP Sulawesi Selatan dan segenap undangan yang hadir begitu mendukung masyarakat sekitar situs untuk berkarya demi meningkatnya taraf ekonomi mereka.(R/Rajendra)